Friday, February 5, 2016
MEMORI FOTOGRAFIS, JENIUS, HYPERLEXIA, MNEMONIST
Oleh : Julia Maria van Tiel
Sebagian anak gifted saat kecil diketahui mengalami suatu perkembangan memori fotografis. Memori fotografis yaitu si anak mampu meregistrasi apa yang dilihat maupun yang didengar akan diregistrasi secara akurat. Perkembangan ini merupakan perkembangan lompatan pandang ruang hingga tiga dimensional. Kita bisa melihatnya dari kemampuan anak bisa menggambar apa yang dilihatnya secara tiba-tiba dalam bentuk tiga dimensional.
Namun memori fotografis ini seiring dengan perkembangan kreativitas, kemampuan abstraksi berpikir, spatial dan konsep, memori fotografis ini lambat laun akan menyusut, dan kita kehilangan momen melihat anak kita menunjukkan memori fotografisnya karena ia sudah berkembangan ke arah lain.
Dengan hilangnya memori fotografis ini, para peneliti kesulitan sekali mengumpulkan data akurat terhadap fenomena perkembangan ini, sehingga orang sering mengatakan memori fotografis itu cuma mythos. Ternyata tidak, untuk kelompok tertentu, yaitu yang disebut SAVANT SYNDROME. Pada kelompok gifted memang betul, dalam perkembangan selanjutnya memori fotografisnya sudah tercemar oleh konsep sehingga tidak lagi murni sebagai memindahkan dari apa yang dilihat, dicatatnya, dan dikeluarkannya lagi dengan keakuratan yang luar biasa. Untuk selanjutnya ia kesulitan untuk menampilkan memori fotografis ini.
Pada SAVANT SYNDROME misalnya pada autisme atau Down Syndrome, memori fotografisnya tidak tercemar oleh perkembangan konsep dalam perkembangan kognitifnya. Apa yang ditampilkan adalah hasil registrasi yang sangat akurat. Misalnya ia melihat sebuah kota lalu menggambarkannya. Atau ia mendengarkan sebuah lantunan musik piano lalu melantunkannya tanpa lagi melihat partiture karena ia buta dan retardasi mental. Keunikan ini disebut savant syndrome, sebuah kemampuan luarbiasa dalam diri seseorang yang paradox – retardasi mental tetapi mempunyai keunggulan. Misalnya ini http://www.stephenwiltshire.co.uk/
Savant syndrome tidak dapat disebut jenius, karena istilah jenius hanya dikenakan pada individu gifted yang sudah mampu mengaktualisasikan intelektualnya yang luar biasa. Sedang pada anak gifted di usia dini disebut Prodigies atau Wonder Kind.
Sejak beberapa tahun lalu muncul Pemasaran parenting tentang membuat anak menjadi jenius dengan cara memberi anak flash card, yaitu kartu-kartu berisi kata-kata. Anak bisa menyebutkan apa yang tertulis di kartu itu dengan tepat. Ini bukan jenius juga bukan wonder kind, tetapi HYPERLEXIA.
Lihat ini https://www.youtube.com/watch?v=OnK3sNqlWko
Ada juga parenting menjadikan anak menjadi jenius dalam kemampuan kali bagi tambah kurang, ini bukan jadi jenius tetapi disebut MNEMONIST. MNEMONIST sebagaimana hyperlexia hanya mengandalkan memorizing. Ia bisa kali bagi tambah kurang bahkan ada yang sampai berdigit digit seperti dalam film Rain Man tetapi tidak ada pemahaman.
https://en.wikipedia.org/wiki/Mnemonist
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment